ARTIKEL_Fityan Fakih Nugroho / XI MIPA I

 Kehidupan Gen Z

Fityan Fakih Nugroho / XI MIPA I


https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf51Ksin8ARoD-CeuN58-84jmMzXBlYOTZIbA_-htVrazHC05Ku9gWLIQL1SlcQ4E5d6NmTTOB-E97IwyW1itfbIrK7waGgv-Tjq-nMRSLrB5XMjB-bFCYEyxUwlzBhvy_uh4_ug4jGEMtkRenGt3rI_BVp?key=lup4JmgbK5myvALEsRxwoA


Generasi Z, atau yang dikenal juga sebagai Gen Z, merupakan orang-orang yang lahir antara tahun 1996 – 2012. Mereka yang lahir pada tahun tersebut, rata-rata saat ini sudah menginjak remaja atau sedang duduk di bangku kuliah. Gen Z sendiri berasal dari kata Zoomer karena mereka lahir dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan internet secara dekat. Gen Z rata-rata berasal dari orang tua Gen X (tahun lahir antara 1965 – 1980), sehingga secara generasi kita dapat menyimpulkan bahwa ada selisih jarak 2 generasi dari orang tua dan anak mereka sebagai Gen Z. Hal inilah yang membuat terkadang orangtua kurang dapat memahami anaknya karena ada perbedaan tantangan zaman dan ciri khas pada setiap generasi.

Sebagai generasi yang tumbuh erat dengan perkembangan teknologi Gen Z terbiasa hidup di lingkungan yang serba cepat dan dimudahkan dalam berbagai hal, karena dapat mengakses apapun yang mereka mau dengan smartphone. Di satu sisi Gen Z merupakan generasi yang tumbuh di era yang mana keluarga secara ekonomi rata-rata lebih stabil, sehingga Gen Z juga secara umum tumbuh di lingkungan yang cukup nyaman dan terpenuhi baik secara materi, serta secara Pendidikan. Secara Pendidikan, para Gen Z juga memiliki kesempatan untuk bisa sekolah di sekolah-sekolah pilihan atau sekolah favorit sesuai versinya masing-masing.

Di sisi lain, karena Gen Z hidup di zaman yang serba cepat. Gen Z cenderung kurang sabar dan kerap mengharapkan hasil yang instan yang pada dasarnya jika kita ingin mendapatkan sesuatu, pasti ada tahap-tahap yang harus kita lalui. Tetapi secara kapasitas kognitif, Gen Z merupakan generasi yang cepat dalam belajar. Namun Gen Z memiliki sifat kurang sabar dalam menjalani prosesnya, sehingga terkadang mereka mudah menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan.

Ciri khas lain yang menjadi keunikan pada Gen Z adalah perkembangan teknologi yang memberi kesempatan bagi anak untuk bisa memperoleh atau mengakses informasi dari berbagai sumber dan dari berbagai belahan negara. Hal ini membentuk Gen Z menjadi generasi yang cukup kritis dalam menyikapi informasi, yang juga terbawa pada keseharian mereka. Oleh karena itu, kalau terkadang Orang tua merasa Gen Z ini tidak dapat dinasehati, bisa saja hal ini disebabkan karena Gen Z tumbuh di era dimana semua informasi berdatangan dari berbagai sisi dan memang dibutuhkan kemampuan untuk memilah informasi yang dapat diterima, sehingga Gen Z kerap mempertanyakan informasi yang diterima dan tidak langsung menyetujui tanpa adanya dasar atau bukti yang valid.

Gen Z juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Gen Z cenderung memiliki pengetahuan yang luas karena mudahnya mengakses informasi, terbuka terhadap perkembangan yang ada, memiliki motivasi yang tinggi, tidak gampang berpuas diri, dan mempunyai keinginan untuk terus berjuang.Namun demikian, generasi Z juga memiliki beberapa sejumlah kelemahan, antara lain:  Cenderung individualistis dan egosentris. Tidak fokus terhadap satu hal. Kurang menghargai proses atau lebih tertarik kepada hal-hal yang instan. Lebih memprioritaskan uang. Emosi yang cenderung labil. Terlalu bergantung pada teknologi. Sehingga kesulitan ketika dihadapkan dengan hal-hal yang konvensional.

Dengan kelemahan yang dimiliki generasi Z, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar dapat meminimalisir kelemahan pada Gen Z memerlukan pendekatan yang terintegrasi, terutama dalam pendidikan dan pelatihan. Dengan mengutamakan pengembangan keterampilan praktis dan soft skills, seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah, kita dapat membantu mereka lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja. Program-program pelatihan yang diselenggarakan di sekolah maupun universitas dapat memberikan pengalaman langsung yang berharga, sehingga mereka tidak hanya terampil secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.

Selain itu, penting untuk membangun kesadaran diri di kalangan Gen Z. Mendorong mereka untuk melakukan refleksi diri dan mengenali kekuatan serta kelemahan yang dimiliki dapat membantu mereka menjadi lebih percaya diri dan adaptif. Aktivitas seperti jurnal, mentoring, atau pelatihan pengembangan diri bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan kesadaran ini. Keterlibatan dalam kegiatan sosial dan organisasi komunitas juga dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat, memperkuat rasa keterhubungan, dan mengembangkan kemampuan kerja sama di antara mereka.

Di era digital saat ini, pengelolaan kesehatan mental dan keseimbangan dalam penggunaan teknologi sangat penting. Memberikan akses kepada Gen Z terhadap sumber daya kesehatan mental, seperti konseling dan dukungan emosional, dapat membantu mereka mengatasi tekanan yang sering muncul. Selain itu, pendidikan finansial yang baik akan membantu mereka mengelola keuangan pribadi dan mempersiapkan masa depan. Dengan pendekatan holistik ini, Gen Z dapat lebih siap untuk menghadapi tantangan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Selain itu, Gen Z juga memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Mereka adalah digital natives yang tumbuh dengan teknologi, sehingga sangat terampil dalam menggunakan perangkat elektronik dan media sosial. Hal ini membuat mereka cepat beradaptasi dengan tren dan informasi terbaru. Gen Z juga memiliki kesadaran sosial dan lingkungan yang tinggi; mereka peduli terhadap isu-isu keberlanjutan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia, serta sering terlibat dalam gerakan sosial. Selain itu, banyak dari mereka menunjukkan semangat kewirausahaan dan kemandirian, lebih memilih jalur karir yang fleksibel dan menciptakan peluang sendiri.

Kesimpulan yang kita dapat  mengenai Gen Z menunjukkan bahwa mereka merupakan generasi dengan kelemahan dan tantangan, seperti kecemasan tentang masa depan dan ketergantungan pada teknologi yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Namun, mereka juga memiliki kelebihan yang signifikan, termasuk kemampuan beradaptasi dengan cepat dan kesadaran sosial yang tinggi, yang mendorong keterlibatan dalam gerakan sosial. Karakteristik mereka mencerminkan nilai-nilai keberagaman, inklusi, dan keterbukaan dalam membahas isu kesehatan mental. Semangat kewirausahaan dan kemandirian mereka memungkinkan penciptaan peluang baru. Dengan potensi ini, Gen Z dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan.



Sumber Rujukan: 


Aji, Dermawan. 2020. Self-Coaching. Bandung: Dinamika Transformasi Asia.


Penjelasan tentang Gen Z https://edukasi.kompas.com. Diunduh pada tanggal 08 Agustus 2022, pukul 10.00.dan https://id.wikipedia.com 


Komentar

Ruang Baca