ARTIKEL_Lintang Ahyanagra/XI MIPA 1

 Gen Z dan Masalah Mereka

Lintang Ahyanagra/XI MIPA 1


Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Gen Z sering disebut-sebut. Biasanya istilah ini dihubungkan dengan slogan Generasi Emas Indonesia Tahun 2045. Banyak dari kita yang juga sebenarnya termasuk dalam Gen Z ini. Namun, apakah sebenarnya Gen Z itu? Mengapa sering dikaitkan dengan Indonesia Emas? Lalu, apakah seharusnya kita memang menjadi generasi yang diharapkan oleh masyarakat?

Dilansir dari Wikipedia, Generasi Z atau yang biasa disingkat Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012. Orang-orang yang lahir sebagai Gen Z sudah mengenal teknologi seperti hp, komputer, laptop, tv, dan teknologi-teknologi lainnya. Maka dari itu biasanya Gen Z seringkali dipandang sebagai generasi yang benar-benar paham soal teknologi melebihi generasi-generasi di atasnya seperti generasi Milenial atau Gen X. Hal ini membuat Gen Z digadang-gadang sebagai generasi masa depan yang akan membawa perubahan kepada dunia, terutama dalam perihal teknologi.

Namun, kita dapat melihat faktanya secara langsung di lapangan. Banyak anak-anak serta remaja yang tidak mencerminkan arti makna Gen Z yang orang bilang sebagai generasi emas di masa mendatang. Banyak kasus-kasus perdata yang datang dari kalangan remaja, kasus narkoba, kasus judi, kasus pelecehan, kasus pembulian, kasus pencurian, dan kasus pinjaman online. Di negara kita tercinta yaitu Indonesia, hal-hal semacam ini juga terjadi. Para manusia Gen Z di Indonesia juga mengemban beban yang sangat berat. Mereka membawa beban sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045. Harapan orang-orang terhadap Gen Z sangatlah besar karena merekalah yang kelak akan membawa Indonesia ke peradaban yang lebih maju dengan ekonomi dan teknologi yang melebihi masanya.

Tekanan beban yang diberikan kepada Gen Z membuat mereka mengalami mental breakdown atau gangguan kesehatan mental. Dilansir dari halodoc.com, Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA), sekitar 91% Gen Z mengaku pernah mengalami setidaknya satu gejala fisik atau emosional akibat stres. Contohnya seperti merasa depresi atau sedih, kehilangan minat, motivasi, atau energi. Bukan hanya itu, sekitar 1 dari 3 anak muda berusia 18-24 tahun juga melaporkan gejala terkait kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa banyak sekali orang berusia remaja pada saat ini yang memiliki masalah yang sama, yaitu gangguan kecemasan yang berlebih atau biasa disebut dengan overthinking.

Banyak hal yang menjadi faktor mengapa Gen Z cenderung memiliki masalah kesehatan mental. Berikut alasan-alasan Gen Z rentan terhadap gangguan mental menurut halodoc.com. Pertama, informasi dari sosial media. Informasi pada masa sekarang ini memang penting untuk didapat, tetapi terlalu banyak informasi pun tidak baik. Ditambah dengan beredarnya informasi hoaks di mana-mana. Kebanyakan orang bahkan Gen Z sekalipun, sering termakan berita-berita hoaks. Itulah mengapa banyak Gen Z yang mengalami gangguan mental, mereka menerima begitu banyak berita yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Kedua, Gen Z memiliki pandangan pesimis. Menurut studi dari Montclair State University, generasi ini cenderung melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya, dibandingkan dengan pandangan generasi sebelumnya yang cenderung lebih positif. Contohnya, mereka sangat mengkhawatirkan nasib dunia dikarenakan perang tak berkesudahan dan perubahan iklim yang tidak bisa dihentikan. Tak salah untuk memikirkan masalah-masalah tersebut, tetapi terlalu banyak memikirkannya akan membuat diri kita sendiri stress.

Ketiga, jarang berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Menurut survey, hampir separuh responden Generasi Z menggunakan internet 10 jam atau lebih setiap hari. Hal ini menyebabkan waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi secara langsung atau tatap muka dengan orang lain di sekitarnya. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Bersosialisasi melalui internet bisa menjadi salah satu cara untuk mengobrol, tetapi kebanyakan Gen Z lebih sering menghabiskan waktu dengan mengobrol secara maya dan melupakan dunia realitanya. Hal ini membuat mereka tidak bisa mengobrol secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itu mereka merasa stress kalau tidak terkoneksi dengan internet.

Keempat, terlalu memikirkan isu sosial dan politik. Menurut penelitian dari Edelman, sekitar 70% dari Generasi Z di seluruh dunia mengatakan mereka terlibat dalam isu sosial atau politik. Kepedulian ini sering kali dipicu oleh mudahnya akses mereka terhadap berita terbaru melalui internet. Gen Z sudah sering terpapar berita media yang begitu beragam, hal ini membuat mereka terpacu untuk memikirkan segala masalah juga solusi dari berita tersebut. Pikiran mereka begitu banyak hingga mereka stress sendiri dan mengalami gangguan kecemasan.

Kelima, overthinking masa depan. Kemajuan AI (Artificial Intelligence) telah mengambil alih banyak pekerjaan yang dahulu dikerjakan oleh manusia. Hal ini membuat banyak lapangan kerja yang berkurang karena adanya AI. Masa depan Gen Z yang beriringan dengan berkembangnya teknologi AI menjadi sulit karena banyaknya lapangan kerja yang tergantikan oleh AI. Hal itu membuat orang-orang overthinking akan masa depan Gen Z yang malah menimbulkan masalah kesehatan mental.

Dalam buku self-coaching karya Darmawan Aji, beliau membahas tentang Cognitive- Behavior Model atau model kognitif-berperilaku. Kognisi adalah pemikiran dan efek emosionalnya pada diri kita, sedang perilaku adalah bagaimana kita merespon terhadap efek emosional tersebut. Pada dasarnya, kita tak bisa membendung situasi yang menimpa pada diri kita, dalam artian lain, kita tak bisa mengontrol hal-hal di luar kendali kita. Namun kita bisa mengontrol hal-hal dalam kendali kita, contohnya emosi dan pikiran kita. Apa yang kita rasakan akan berdampak pada pikiran kita, dan pikiran itu akan memicu hal berikutnya yaitu tindakan. Model pemikiran ini sangat baik jika diterapkan pada para Gen Z karena model ini membuat kita sadar bahwa yang harus diubah adalah diri kita sendiri, bukan hal-hal lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Bukankah para Gen Z adalah generasi yang akan memimpin dunia ke depannya? Tetapi mengapa mereka mengalami gangguan mental? Kemajuan teknologi informasi yang berlebih membuat para Gen Z menerima berita-berita yang sebenarnya tidak diperlukan karena hal itu membuat mereka memiliki pandangan pesimis terhadap dunia ini. Internet juga membuat mereka melupakan kehidupan realita sehingga mereka menjadi tak pandai bergaul. Namun, dari sekian banyak kabar buruk itu, ada satu kabar baik yang bisa menjadi cahaya dalam gelapnya hutan. Kita bisa mulai dari mengendalikan pikiran kita agar kita tidak mudah diperdaya oleh informasi-informasi yang beredar di dunia maya. Mulailah dengan berpikir positif, maka hal selanjutnya akan menunggumu datang.



Sumber Rujukan:

Aji, Darmawan. 2020. Self-Coaching. Bandung: Dinamika Transformasi Asia.

dr. Rizal Fadli. 2024. Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Mental.

halodoc.com. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2024.

Wikipedia. 2024. Generasi Z. id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2024.


Komentar

Ruang Baca