ARTIKEL_Riffat Nuzul Hidayat/XI-MIPA I
Pengantar Umum Bahasa dan Sastra
Riffat Nuzul Hidayat/XI-MIPA I
Sumber:https://asset-a.grid.id/crop/0x647:740x1046/700x465/photo/2023/07/18/bukujpg-20230718091718.jpg
Kita adalah manusia yang fitrah nya menjadi makhluk sosial, kita bisa menjadi makhluk sosial karena berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama makhluk lain, pada umumnya manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, begitu penting peran bahasa bagi kehidupan manusia, dengan bahasa kita bisa mengekspresikan pemikiran dan perbuatan, tanpa bahasa manusia akan kesulitan dalam berkomunikasi dan terjadi kesalahpahaman lalu terjerumus dalam jurang anti sosial,
Sebenarnya apa itu bahasa, suatu entitas yang tak wujud namun meninggalkan jejak yang berpengaruh bagi dunia. Dikutip dari buku Tata Bahasa praktis Bahasa Indonesia, “Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.”, lalu dari buku yang sama juga mengatakan, “Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia bermasyarakat.”, disini menjelaskan fungsi dari bahasa itu sendiri.
Bahasa di dunia sangat beragam, tetapi apa yang membuat bahasa di setiap belahan dunia berbeda-beda, dikutip dari buku Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, “Setiap bahasa sebenarnya mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kata, tata kalimat, dan tata makna. Tetapi karena berbagai faktor yang terdapat di dalam masyarakat pemakai bahasa itu, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan, dan profesi, dan latar belakang budaya daerah, maka bahasa itu menjadi tidak persis sama,” begitu suatu entitas yang aneh, begitu samar namun berpengaruh, dapat dengan mudah mendominasi dunia namun juga dapat dengan mudah hilang bila tak seorang pun yang memakainya.
Bahasa adalah hal yang menarik, namun bagaimana cara kita menggunakan atau menyampaikan suatu bahasa, sastra adalah jawaban nya, tapi sebelum itu, apa itu sastra. Menurut Plato, sastra merupakan hasil tiruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Hal tersebut karya sebuah karya sastra harus merupakan bentuk teladan alam semesta sekaligus menjadi model kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Lalu, menurut Sapardi Djoko Damono (1979), sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra juga menampilkan gambaran kehidupan manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataan sosial.
Melalui pengertian-pengertian sastra yang disampaikan oleh beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah hasil karya manusia yang menceritakan mengenai kehidupan manusia dan disampaikan melalui bahasa.
Sastra pun ada berbagai macam, secara umum, sastra dibagi menjadi dua berdasarkan zaman pembuatan karya sastra tersebut, yang pertama adalah karya sastra lama. Karya sastra lama ini lahir dari masyarakat indonesia secara turun-temurun. Dalam karya sastra lama ini biasanya berisi tentang nasehat, ajaran agama, hingga ajaran moral. Hal tersebut karena karya sastra lama diciptakan oleh nenek moyang dan disebarkan secara anonim. Contoh karya sastra lama misalnya pantun, gurindam, dongeng, mitos, legenda, dan lain lain.
Lalu yang kedua adalah karya sastra baru. Sebuah karya sastra baru biasanya sudah berbeda dengan karya sastra lama dan tidak dipengaruhi oleh adat kebiasaan masyarakat. Karya sastra baru ini cenderung dipengaruhi oleh karya sastra barat dan eropa. Dalam karya sastra baru memiliki banyak genre sesuai dengan realitas sosial yang terjadi didalam masyarakat. Contoh karya sastra baru adalah novel romantis, komik, dan lain lain.
Karya sastra tidak hanya dapat dijadikan sebagai bahan bacaan ketika waktu senggang saja. Sebuah karya sastra mempunyai banyak fungsi yang secara tidak langsung dapat menampilkan kehidupan yang lain. Menurut kosasih (2012), sastra mempunyai beberapa fungsi yang digolongkan dalam lima besar, yakni sebagai berikut.
Fungsi rekreatif. Karya sastra selalu dapat memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur bagi beberapa orang yang menikmati isi bacaannya. Misalnya, melalui membaca sebuah cerita sastra, seseorang dapat melupakan sejenak masalah hidupnya. Lalu fungsi didaktif. Karya sastra tidak hanya melulu membahas fiksi yang menghibur, tetapi juga mendidik pembacanya mengenai mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Melalui membaca sebuah karya sastra, pembaca juga dapat memperoleh pengetahuan baru karena setiap karya sastra selalu membahas mengenai realitas sosial yang terjadi
Lalu fungsi estetis. Fungsi estetis ini berarti sebuah karya sastra yang dapat memberi nilai nilai keindahan. Nilai-nilai keindahan tersebut dapat dilihat dari kata-kata yang digunakan dalam tulisan karya sastra. Lalu fungsi moralitas. Sebuah karya sastra pasti mengandung nilai moral yang tinggi dan diperuntukkan bagi pembacanya. Nilai-nilai moral tersebut dapat berupa keyakinan terhadap Tuhan, adil, menghargai sesama, tolong menolong, kasih sayang, dan lain-lain. Contoh karya sastra Indonesia yang mengandung nilai moral tinggi adalah sastra yang berjudul “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli yang secara tidak langsung memberikan nilai moral mengenai cinta dan budaya masyarakat.
Dan yang terakhir adalah fungsi religiusitas. Karya sastra kerap kali memuat ajaran agama dan dapat dijadikan teladan bagi pembacanya. Bangsa Indonesia yang menganut Pancasila sebagai dasar negara, pada sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka dari itu, pastilah setiap karya sastra akan ada muatan ajaran agama karena karya sastra adalah hasil budaya masyarakat yang beragama.
Sumber Rujukan:
Chaer Abdul. 1997. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta:PT Asdi Mahasatya
https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-sastra/




Komentar
Posting Komentar