ARTIKEL_Zhafran Muhadzdzib / XI MIPA 1
AI, Bahaya & Manfaat
Zhafran Muhadzdzib / XI MIPA 1
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah sebuah hal yang menjadi pembicaraan dimana-mana beberapa tahun belakangan. Sebuah perkembangan di dunia teknologi memang sudah pada dasarnya akan menimbulkan pro dan kontra dalam tahun – tahun awal penerapan dari sebuah inovasi tersebut. Berbagai pihak merasa harga yang dibayar untuk sebuah perubahan ini terlalu mahal bagi berbagai sektor dalam kehidupan manusia. Memangnya apa sih masalah utama yang disebabkan hal ini?
AI adalah kecerdasan yang ditambahkan dalam suatu sistem yang biasanya meniru kecerdasan dari makhluk biologis. Sejak awal ditemukannya komputer, manusia sudah memperkirakan kemunculan dari hal seperti ini, hal ini dibuktikan dengan kemunculan berbagai media hiburan yang menampilkan bagaimana dunia yang dikuasai penuh oleh robot dan kecerdasan buatan. Tujuan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan adalah penciptaan “Perwujudan” dari kecerdasan tersebut di dunia nyata (Warwick,2012). Pembicaraan dan penelitian terkait hal ini semakin gencar dilakukan sejak kemunculan ChatGPT, sebuah Large Language Model (LLM) ciptaan OpenAI pimpinan Sam Altman. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa ChatGPT dapat diakses oleh semua orang dengan gratis melalui internet. Berbagai pihak merasakan pengaruh yang sangat besar dari kemunculan AI yang gratis dan mudah diakses oleh semua kalangan ini, terutama sektor pendidikan.
ChatGPT yang pada dasarnya memiliki database seluruh internet membuat pelajar – pelajar di seluruh dunia sangat terbantu karena kemampuan AI ini untuk melaksanakan perintah berdasarkan perintah sederhana dengan berbagai bahasa di selutuh dunia. Sekarang, para pelajar dapat mengerjakan tugas mengarang 2 halaman hanya dalam waktu 5 menit dengan bantuan AI ini. Pada awalnya, pihak pengawas sektor pendidikan tidak mempermasalahkan hal ini, hingga belakangan diketahui bahwa AI ini juga dapat digunakan untuk membuat makalah dan tugas akhir yang harusnya dikerjakan oleh mahasiswa. Berbagai usaha perlawanan dikeluarkan pihak pengawas pendidikan, mulai dari website untuk memeriksa keaslian suatu teks seperti Quillbot hingga perubahan media tulis kembali menjadi kertas. Berbagai reaksi perlawanan diatas akhirnya dapat diatasi juga oleh pihak pengembang dengan mengembangkan berbagai jenis AI baru yang menggunakan bahasa yang lebih santai dan non-formal agar tidak terdeteksi oleh para pengawas pendidikan.
Tetapi, tidak semua sektor dirugikan dari kemunculan AI ini, ada juga pihak-pihak yang diuntungkan seperti sektor kesehatan & layanan bagi lansia yang dapat digantikan dengan kecerdasan buatan sehingga para karyawan yang kadang kelelahan dalam menghadapi lansia yang memiliki penyakit degeneratif seperti alzheimer dan parkinson. Pihak lain yang merasa diuntungkan adalah para penyandang disabilitas yang sekarang dapat mengerjakan banyak hal hanya dengan menggunakan perintah suara untuk membantu kehidupan sehari-hari. Para penyandang disabilitas juga sekarang bisa bepergian dengan menggunakan mobil yang sepenuhnya dikendalikan oleh AI.
Sebenarnya, dalam berbagai sektor perkantoran, AI dapat dimanfaatkan untuk pengolahan & analisis berbagai data berukuran besar. Tetapi, hal ini juga memiliki beberapa resiko yang mengancam seperti serangan hacker yang dapat merusak berbagai data yang dimiliki perusahaan. Di Indonesia, kejadian serangan hacker masih menjadi sebuah permasalahan yang belum bisa diselesaikan oleh berbagai intansi termasuk instansi kenegaraan.
Bahaya lainnya yang sering dibicarakan berkaitan dengan semakin miripnya jawaban atau balasan AI dengan jawaban yang mungkin diberikan oleh manusia biasa pada umumnya, hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah seperti, hilangnya kontak antar manusia, munculnya orang-orang yang memilih menjalin hubungan dengan AI yang seharusnya hanya mungkin terjalin antar manusia.
Sebuah topik yang sering dibicarakan juga adalah bagaimana kecerdasan buatan dapat mengambil alih lapangan pekerjaan bagi manusia, hal ini dapat terjadi karena AI pada dasarnya hanya memerlukan sumber daya yang lebih sedikit untuk bekerja dengan waktu yang sama dibandingkan manusia pekerja. Hal ini sepertinya dapat terasa di zaman sekarang, dimulai dari berbagai pekerjaan yang hanya berisi tanya jawab seperti customer service, hingga pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik seperti buruh pabrik, dan lain sebagainya. Sektor pekerjaan yang masih merasa nyaman dari bahaya ini adalah para pekerja seni yang pekerjaannya sangat sulit digantikan oleh AI yang tidak memiliki perasaan dan jiwa seni dari seorang manusia.
Penemuan AI yang dapat meniru dan memalsukan perkataan ataupun perbuatan manusia yang disebut Deepfake baru-baru ini juga menghebohkan dunia karena kemampuannya untuk menghancurkan nama baik dari berbagai tokoh besar dunia dengan memalsukan perbuatan yang akan menimbulkan berbagai kontroversi. Masalah ini menjadi sangat besar sehingga sekarang pekerjaan untuk membuat Deepfake menjadi sangat popular karena gajinya yang tinggi dan kekuatannya yang sangat mengerikan.
Bahaya terakhir yang ditakuti oleh umat manusia adalah penguasaan penuh pikiran manusia oleh kecerdasan buatan. Hal ini sudah mulai terlihat pada masa sekarang dimana orang-orang bahkan hanya untuk mengerjakan tugas harus meminta tolong pada ChatGPT. Masalah ini ditakutkan akan terjadi beberapa tahun lagi dan dipervaya dapat menjadi sebuah penyebab dari kemusnahan massal umat manusia, sifat AI yang logis, efisien, dan tanpa perasaan juga menjadi salah satu penyebab munculnya pemikiran ini. Tetapi, pada masa sekarang, masalah ini masih hanya sekedar sebuah hayalan paranoid dari para peneliti.
Intinya, pada masa dimana dunia sedang berkembang dengan sangat pesat seperti saat ini, kita harus berusaha mengikuti agar tidak tertinggal dan digantikan. Teknologi kecerdasan buatan tentunya memiliki manfaat dan bahaya yang pastinya kana terus berkembang seiring waktu, tapi apakah hal itu akan menjadi kenyataan, hanya waktu yang dapat menjawab.
Sumber Rujukan :
Warwick, Kevin. 2012. Artificial Intelligence : The Basics. Oxford: Routledge.



Komentar
Posting Komentar